Nafkah setelah bercerai

Apakah seorang suami masih wajib membelanjai istri apabila mereka telah diceraikannya? Apakah ada hadits yang menguatkan hal ini?
Siti K, Panbill

Bismillah..
Untuk menjawab masalah ini, kita perlu merinci jenis talaknya:
Pertama, kalau talaknya talak raj’i (talak yang dijatuhkan pada isteri yang sudah dicampuri, tanpa menerima pengembalian mahar dari isteri, dan sebagai talak pertama atau talak kedua, alias belum sampai talak tiga), maka selama masa ‘iddah (masa tunggu, dimana sang istri selama itu tidak boleh menikah dengan laki-laki lain) mantan istri masih berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal, menurut kesepakatan para ulama, dengan alasan:


a. selama masa iddah sebenarnya mantan suaminya masih disebut suami, Allah SWT menyebut laki-laki yang menceraikan istrinya dengan talak raj’i dengan sebutan bu’ul, kata bu’ul itu artinya suami (bukan mantan suami), “dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah.” (QS. al Baqarah : 228)
b. berdasarkan riwayat Fathimah binti Qais, dia mengatakan “suamiku menceraikan aku dengan talak tiga, lalu aku mendatangi Rasulullah, dan beliau tidak memberikanku hak tempat tinggal dan nafkah, karena nafkah itu bagi istri yang diceraikan dengan talak raj’i.” (HR. Ahmad). Dan hadits yang

Kedua, kalau talaknya talak ba’in (tak ada lagi hak suami untuk rujuk kepada isterinya, karena talak tiga misalnya), para ulama berbeda pendapat disini, antara yang mengatakan tetap dapat nafkah dan tempat tinggal dan ada yang mengatakan tidak dapat lagi, saya lebih cendrung pada pendapat yang mengatakan bahwa mantan istri tersebut tidak berhak mendapatkan tempat tinggal dan nafkah lagi, alasannya:
a. mafhum mukhalafah dari firman Allah, “dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin.” (QS. at Thalaq : 6), mafhum mukhalafah dari ayat tersebut adalah, kalau mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) yang diceraikan itu tidak dalam kondisi hamil, maka tidak ada kewajiban nafkah lagi bagi mereka.
b. berdasarkan riwayat Fathimah binti Qais, dimana dia diceraikan oleh suaminya dan tidak diberikan nafkah, dia melaporkan hal ini kepada Rasulullah, beliau bersabda, “tidak ada nafkah bagimu.” (HR. Muslim, bab perempuan yang ditalak tiga tidak ada nafkah baginya).

Adapun kalau dalam keadaan hamil, sekalipun talak bain, mantan istri tetap dapat nafkah, sekalipun ada juga pendapat yang mengatakan tidak dapat, tetapi pendapat yang terkuat dia berhak mendapatkan nafkah. Bahkan kalau sekalipun bukan hak dia, mantan istri yang hamil itu mesti diberikan nafkah, karena pertimbangan janin yang dia kandung adalah anak mantan suami juga yang tidak akan berpisah dengan bapaknya sekalipun bapak dan ibunya bercerai.
wallahu a’lam


[+/-] Selengkapnya...

istri mau berqurban tetapi dilarang suami

Saya seorang istri yang aktif bekerja, dan alhamdulillah gaji saya lumayan, saya berniat berkurban tetapi suami melarang, apa yang harus saya lakukan, benarkah saya andai tidak menuruti keinginan suami ? Karena suami melarang saya untuk beribadah kepada Allah.
Hamba Allah, Sagulung

Bismillah
Pada dasarnya hubungan suami istri adalah hubungan dalam rangka bekerjasama menegakkan hukum Allah, dan bertolong menolong dalam kebaikan, Allah swt berfirman, “dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Maidah : 2).


Oleh karena itu ketaatan kepada suami tetap mengacu kepada aturan Allah, Rasulullah bersabda, “tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu pada perbuatan yang ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam kasus ibu, suami sebenarnya tidak bisa menghalangi ibu untuk melakukan kebaikan dan ibadah, apalagi uang qurbannya berasal dari uang gaji ibu sendiri, yang dalam pandangan syari’ah, ibu sangat berhak terhadap uang tersebut. Dan ibu sebenarnya dibenarkan untuk tidak ikut keinginan suami, karena berqurban adalah ibadah yang dibebankan kepada orang yang sudah mampu dan dalam hal ini ibu termasuk orang yang sudah mampu. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah 3123, Al Hakim 7672 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani).
Okelah, dalam hal ini ibu memiliki alasan kuat untuk tidak menuruti keinginan suami, tetapi saya anjurkan kepada ibu, untuk tidak terburu-buru menilai suami salah, ketidakinginan suami tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, bahwa suami sudah melawan aturan Allah sehingga tidak boleh dipatuhi lagi.
Ada beberapa kemungkinan kenapa suami melarang, itu bisa saja disebabkan karena a) suami sendiri ingin berkurban, jadi istri tidak perlu lagi, atau b) karena suami memag tidak faham, yang terpikir dibenaknya, dari pada beli kambing untuk qurban mendingan buat nambah modal usaha misalnya, atau bisa saja karena c) suami tersinggung karena mentang-mentang gaji istri lebih besar, lalu berqurban atas nama istri, sehingga orang lain tahu kalau suaminya itu ”kere”, sehingga disaat itulah ego suami keluar, lalu memanfaatkan posisinya sebagai ’imam’ dalam rumah tangganya dan ada banyak alasan lainnya saya kira.
Oleh karena itu, sebaiknya masalah ini dibicarakan hati kehati, kenapa siabang tidak setuju qurban, kalau tidak tahu hukumnya, berarti inilah kesempatan istri mendakwahi suaminya tentang syari’ah berqurban, kalau karena dia ingin berqurban sendiri, istri tidak perlu lagi berkurban, karena pada dasarnya qurban itu dibebankan bukan perkepala tapi perrumah tangga.
Tapi kalau karena suami tersinggung, dan tetap memaksa istri untuk tidak berkurban, saya sarankan ikuti saja keinginan suami, karena beberapa alasan:
a. menjaga keharmonisan rumah tangga lebih penting dari sekedar mengejar pahala dari ibadah sunnah, lebih baik tidak jadi berqurban dari pada keharmonisan rumah tangga yang jadi korban. Menjaga keharmonisan rumah tangga adalah kewajiban, karenanya yang wajib harus lebih diprioritaskan dari yang sunnah, seperti halnya hukum puasa sunnah ketika suami tidak mengizinkan.
b. berqurban dibebankan sepanjang tahun, kalau tahun ini gagal karena alasan suami seperti itu, mungkin ditahun depan Allah bukakan hatinya, jadi masih ada peluang, tapi kalau gara-gara berqurban lalu rumah tangga hancur-hancuran, apa alternatifnya untuk merukunkannya lagi, tentu jauh lebih berat, susah dan beresiko.
c. Allah membebankan hamba-Nya tetap dengan standar kemampuan (QS. al-Baqarah : 286), dalam hal ini ibu belum mampu berqurban ditahun ini saja, karena beresiko tidak baik bagi keharmonisan rumah tangga, mudah-mudahan tahun-tahun berikutnya Allah mudahkan.
Semoga Allah mudahkan ibu dan keluarga ibu untuk mengikuti semua syari’ah Allah ta’ala dan menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah dan diridhai-Nya.
Wallahu a’lam.


[+/-] Selengkapnya...

Suami mengatakan cerai dalam keadaan marah

Saya punya suami yang kalau marah, paling gampang mengatakan cerai dan pisah, apakah status nikah kami sebenarnya dimata syari’ah? Apa solusinya pak ustadz?
Hamba Allah, Batam Center

Bismillah..
Ungkapan yang apabila terucap dari lidah suami ada dua model:
pertama, sharih (jelas) yakni kata-kata “talak” dan “cerai”, ungkapan ini akan beresiko perceraian, sekalipun sang suami mengatakannya sambil main-main dan sekedar guyonan, berniat menceraikan ataupun tidak, ketika sedang tidak marah atau marah yang tidak sampai pada level seperti orang gila (tidak sadarkan apa-apa lagi). Rasulullah bersabda, “tiga perkara yang serius ataupun main-main jatuh hukumnya: nikah, talak dan rujuk.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah, Syaikh al-Albani mengatakan haditsnya hasan dalam Irwa’).


kedua, kinayah (bahasa kiasan) seperti ungkapan “pulang saja kerumah orangtua mu”, ungkapan model ini yang dilihat adalah, apakah ketika mengungkapkannya terniat menceraikan atau tidak, kalau tidak berniat menceraikan tapi sekedar menyuruh pulang, maka tidak terjadi perceraian. Jadi ungkapan kinayah tergantung dengan niat suami ketika mengucapkannya.
Terkait dengan kasus yang ibu alami, kalau dia mengucapkan kata “aku ceraikan/talak kamu”, artinya dengan bentuk yang sharih, kalau kata-kata itu yang keluar dari lidahnya, maka jatuhlah hukum talak pertama, selagi marahnya tidak sampai pada level tidak sadar sama sekali apa yang diucapkan dilakukannya (Fiqh Sunnah, juz. 3, Sayyid Sabiq), diriwayatkan dari Aisyah, bahwa Rasulullah bersabda, “tidak terjadi talak, juga tidak terjadi pembebasan hamba sahaya pada orang yang sangat marah yang tidak sadar.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim, Hakim mengatakan haditsnya shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim, tetapi dia tidak meriwayatkannya, Imam adz-Dzahabi dan Imam Ahmad juga mengatakan shahih, hasan menurut Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Ibnu Majah).
Kalau kemudian ungkapan ini sudah berulang kali, bahkan ada yang sudah bertahun-tahun seperti itu, saya tidak tahu apakah mereka masih dianggap suami istri apa tidak, karena disebabkan ketidak tahuan mereka dan bukan karena ingin mempermainkan hukum Allah, dan mudah-mudahan dimaafkan Allah atas ketidak tahuan tersebut, Rasulullah mengatakan, “diangkat pena (tidak dicatat sebagai dosa) dari ummatku: kesalahan, kelupaan dan orang yang dipaksa.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim, Syaikh al-Albani mengatakan haditsnya shahih dalam Irwa’).
Adapun solusinya, para suami harus mengetahui hukum ini, sehingga mereka tidak gampang-gampang mengumbar kata-kata cerai/talak sekalipun hanya sekedar main-main, demikian juga para ustadz yang memberikan nasehat pernikahan, hendaklah mengingatkan pengantin dan tetamu undangan tentang hal ini.
Ada sedikit tambahan:
a. bahwa perceraian dalam pandangan Islam bukan apa yang diputuskan pengadilan, tetapi apa yang diucapkan suami ketika itu, adapun yang diputuskan pengadilan hanyalah terkait dengan status dimata negara, bukan dimata Allah. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya talak itu milik suami.” (HR. Ibnu Majah, Hadits hasan menurut Syaikh al-Albani dalam Irwa’).
b. perceraian tetap jatuh begitu diucapkan suami sekalipun tanpa saksi dan belum diputuskan pengadilan, karena saksi bukan termasuk syarat sahnya perceraian (Kifayatul Akhyar, juz. 2, halaman. 107)
Wallahu a’lam.


[+/-] Selengkapnya...

istri nikah lagi, setelah berpisah dengan suami cukup lama

Ada seorang istri, sudah lama merantau ke Batam, dan sudah beberapa tahun tidak pernah lagi kontak-kontakan dengan suaminya yang di Jawa, lalu suatu hari datang seorang pria melamarnya, dan mereka akhirnya menikah, sahkah pernikahan mereka? Apakah perempuan itu masih berstatus istri atau sudah berpisah dengan suaminya, bukankah sudah berpisah bertahun-tahun lamanya.
Sugiarto, Tanjung Piayu

Bismillah….
Apabila terjadi perpisahan (bukan perceraian) yang cukup lama antara suami dan istri, dan masing-masing mengetahui tentang kondisi masing-masing, misalnya suaminya tahu bahwa istrinya di Batam dan istrinya masih tahu kalau suaminya ada di Jawa dikota A, atau masing-masing masih bisa mengakses informasi tentang pasangannya, maka mereka tidak serta merta dianggap “otomatis” bercerai, bahkan sekalipun perpisahan itu berlangsung lebih dari 4 bulan, karena perceraian yang “otomatis” hanya terjadi pada pasangan suami/istri yang murtad dan meninggal dunia. Adapun selain itu, perceraian terjadi karena: a) suami yang menceraikan, atau b) istri yang minta cerai (khulu’) dengan cara menyerahkan badal kepada suami.
Dalam kasus ini, selagi suami dan istri tidak ada komunikasi tentang status mereka, istri tidak pernah minta cerai (khulu’) dan suami juga tidak pernah menceraikan istrinya, maka status lama (sebagai suami istri) terus saja berlanjut, oleh karena itu sang istri tidak boleh menerima pinangan dan menikah dengan siapapun, karena masih berstatus istri yang sah dari suaminya yang di Jawa.


Dan kalau terjadi pernikahan padahal dia masih berstatuskan istri dari suaminya yang di Jawa, maka pernikahan yang kedua hukumnya tidak sah, dan hubungan mereka bukanlah hubungan suami istri yang sah (sekalipun pernikahannya tercatat di KUA), tetapi perzinahan yang diharamkan Allah ta’ala.
Tapi, lain halnya kalau informasi tentang pasangan masing-masing sudah tidak bisa diakses, istri tidak tahu lagi dimana suaminya berada, pun suami kehilangan jejak dimana istrinya berada, dan itu berlangsung cukup lama. Dalam kondisi ini sang istri juga tidak bisa serta merta menikah semau dia, sebelum sampai pada informasi yang valid dan meyakinkan bahwa suaminya sudah wafat atau suaminya sudah menceraikan dia, tetapi selagi informasi yang meyakinkan tentang suaminya tidak dia dapatkan, selama itu pula dia tetap berstatus istri yang sah dari suami yang di Jawa (al-Mu’tamad fil Fiqh asy-Syafi’i, Prof Dr. Muhammad az-Zuhaili, juz. 4, terbitan Darul Qalam, Damaskus), sesuai dengan atsar dari Ali bin Abi Thalib, beliau mengatakan, “perempuan yang kehilangan suaminya itu sedang diuji, maka hendaklah dia bersabar dan tidak menikah sampai mendapat informasi bahwa suaminya sudah meninggal.” [riwayat Imam Syafi’i (bada-i’ as-sunan:2/407) dan Baihaqi: 7/444].
Kalau tidak dapat juga informasi yang valid tentang suaminya, maka dia harus bersabar menunggu sampai pada tahun yang menurut ghalabatuzh zhann (kecendrungan kuat) suaminya sudah meninggal, didalam al-Mu’tamad (juz. 4, halaman 256) dikatakan sampai 90 tahun lamanya.
Kalau harus menunggu informasi sampai 90 tahun, rasanya mana ada yang mampu bersabar segitu lama menanti sesuatu yang tidak pasti dan tentu memberikan mudharat bagi istri, maka penulis rasa, ada solusi lain yang tidak membebani sang istri sebagimana yang dikatakan Imam Nawawi, “selama suaminya tidak ada informasi itu, nafkah tetap menjadi tanggungan suami atau diambil dari harta suami, jika dia tidak ada harta, maka istri berhak mengajukan cerai kepada hakim, karena suaminya tidak memberikan nafkah lahir dan batin lagi, dan hakim kemudian memutuskan mereka berpisah/bercerai.” (Raudhah ath-Thalibin (8/400), Imam Nawawi).
Wallahu a’lam.


[+/-] Selengkapnya...

Hukum Nikah Siri

Pak ustadz, sekarang kan lagi rame-ramenya tentang nikah siri, sebenarnya bagaimana sih nikah siri dalam pandangan Islam? Bolehkah orang yang nikah siri dihukum atau dipenjara?
Yanti, Nagoya

Bismillah..
Format nikah siri yang difahami hari ini dua jenis:
a. pernikahan yang tidak dicatat di KUA, dan tanpa ada restu wali kerabat perempuan (orang tua, kakek, saudara kandung dan lainnya), bahkan kadangkala orang tua kandung perempuan tidak tahu menahu, biasanya pernikahan jenis ini disebut juga kawin lari. Menariknya, ada sebagian orang yang mengaku ustadz bersedia menjadi wali dari siperempuan, padahal tidak punya hubungan kekerabatan sama sekali, dan bersedia menikahkan pasangan kawin lari tersebut. Pernikahan model ini haram hukumnya dan melawan aturan negara.
Haram, karena Rasulullah mengatakan, “tidak sah nikah kecuali ada wali.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, hadits Shahih menurut Syaikh al-Albani dalan Irwa-ul Ghalil).
Dilain riwayat Rasulullah mengatakan, “siapa saja perempuan yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batal, nikahnya batal, nikahnya batal.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, hadits Shahih menurut Syaikh al-Albani dalan Irwa-ul Ghalil).
Memang ada pendapat Imam Abu Hanifah yang membenarkan nikah tanpa wali, tapi pendapat beliau sangat lemah dan tidak bisa menandingi kekuatan dalil mayoritas ulama yang mengatakan nikah siri model ini haram hukumnya.


b. pernikahan yang memenuhi syarat-syarat sahnya akad nikah (seperti adanya wali sah, dua saksi, sepasang mempelai, ijab dan qabul, dan mahar), cuma tidak dicatat di KUA. Pernikahan model ini sekalipun sah dimata agama, tapi bisa saja jatuh pada perbuatan haram, karena berpotensi membahayakan anak dan istri, seperti hilangnya hak-hak anak dimata negara, istri juga akan berada posisi yang lemah dimata hukum. Dan didalam Islam segala yang berpotensi membahayakan haram hukumnya, Dari Abu Sa’id, Sa’d bin Sinan Al-Khudry bahwasanya Rasulullah bersabda, “Tidak boleh membahayakan saudaranya dan tidak boleh membalasnya dengan bahaya.” [HR. Ibnu Majah, Baihaqi dan Ad-Daruquthny, dinilai kuat oleh An-Nawawy dan Ibn Rajab berdasarkan jalur-jalurnya, Syaikh al Albani juga mengatakan shahih dalam as-Silsilah ash-Shahihah].
Dan dari pengalaman lapangan yang penulis dapatkan, nikah seperti ini banyak dilakoni oleh orang yang tidak mendapat “restu” istri pertamanya untuk melakukan poligami, atau PNS yang terhalang oleh aturan negara. Tapi kadang juga disebabkan oleh biaya pernikahan yang seharusnya murah jadi mahal karena dipermainkan oleh oknum tertentu.

Adapun terkait dengan sangsi terhadap pelaku nikah siri, sebagai berikut:
a. pernikahan siri model pertama harus dihukum dengan hukuman yang lumayan, agar tidak diikuti oleh orang lain, dan mereka (sepasang mempelai) harus dipisahkan, karena tidak menikah dengan cara yang sah. Dan dalam hal ini ‘ustadz’ yang bertindak sebagai wali bodong harus dihukum lebih berat lagi, karena dialah yang melegalkan dan menyesatkan ummat.
b. pernikahan siri model kedua, dilihat dari alasan dan kondisinya, kalau dari kalangan yang kurang mampu, sebaiknya dimaafkan dan justru dibelaskasihani, karena mereka tidak jadi menikah mungkin gara-gara ada oknum yang bermain, sehingga biaya pernikahan jadi memberatkan mereka.
kalau dari kelompok yang mampu, perlu dipilah-pilah. Intinya bisa saja dihukum, karena ternyata membahayakan bagi istrinya, dan hukumannya tergantung berat dan ringannya resiko pernikahan tersebut, karena tetap saja pada dasarnya pernikahahan jenis ini berpotensi merugikan dan menzalimi istri dan anaknya.
Tapi satu hal yang harus diperhatikan, hukuman itu harus memberikan efek jera dan pelajaran bagi orang lainnya.
Wallahu a’lam.


[+/-] Selengkapnya...

blogger templates | Make Money Online